September 23, 2021
  • Home
  • Berita Utama
  • “Masa Depan Gereja Setelah Covid 19” Sebuah Seminar Online dari GKKI Menghadirkan Pembicara Kaliber Internasional

“Masa Depan Gereja Setelah Covid 19” Sebuah Seminar Online dari GKKI Menghadirkan Pembicara Kaliber Internasional

By on May 23, 2020 0 647 Views

Online Seminar yang diselenggarakan Para Pendeta dari GKKI (Gereja Kristen Kudus Indonesia) bertajuk “Masa Depan Gereja Setelah Covid 19” di helat pada Sabtu 23/052020 pukul 10.30 WIB berlangsung di Aplikasi Zoom Conference.

Seminar di hadir beberapa pembicara dari para Pendeta di GKKI seperti Pdt Dr Johanes Tarigan Mantan Ketua Sinode GKKI yang kini menetap di Sydney Australia, Pdt Aristarkus Tarigan, MA Pemimpin Jaringan Doa Nasional, Pdt Ediman Ginting, MM Gembala Nasional GKKI dan Pendiri AOG Ministry Lampung, Pdt Immanuel Seldhi, MICE Gembala dan Dosen di Solo, Pdt Sony Summesey Pendiri Bibble Study di Singapore dan Gembala di Pontianak, dan Pdt Chandra Tobing STh Gembala dan Pendiri Sekolah Alkitab Serat Social Worker di Denpasar Bali.

Dengan di pandu host yang piawai membawakan berbagai seminar  Pdt Lukas Kacaribu, SH, MH, MPdk acara dimulai dengan doa dan Tim AOG Ministry Lampung sebagai Worshiper, serta dihadiri hampir 50 peserta yang tersebar di seluruh nusantara ini.

Acara berlangsung sangat dinamis dengan berbagai macam pertanyaan yang diajukan kepada enam orang narasumber seminar. Diawali dengan pembahasan mengenai apakah orang akan kembali ke Gereja seperti semula, atau akan menikmati Gereja dirumah, Pdt Chandra tobing STh mengupasnya dengan mengambil contoh di Gereja Lokalnya di Bali, ketersedian tehnologi yang belum menyeluruh, dan juga beberapa wilayah terpencil masih kurangnya listrik menyebabkan jemaat banyak yang tidak bisa melakukan ibadah online dan sepertinya Pemimpin Gereja harus putar otak lebih lagi untuk melakukan pemuridan rumah kerumah, karena kita yakin dalam pandemic ini Tuhan sediakan Tuaian yang sangat besar.

Setelah Covid 19 ini nantinya akan ada timbul masalah baru di dalam Internal Gereja, yang mana Pdt Sonny Summesey menanggapinya dengan paparan bahwa Gereja akan menerima tantangan besar  dalam internalnya, seperti Gereja yang ada di desa atau daerah terpencil untuk mendapatkan tehnologi yang baru untuk menghadapi era tehnologi yang berkembang, tentu Gereja yang tadinya tanpa listrik, harus memasang listrik, Gereja yang tidak paham menggunkan Tehnologi, harus mau memahami tehnologi, dan ini sebetulnya Hamba Tuhan dan jemaat sedang dipersiapkan dan diperlengkapi Tuhan untuk melakukan pelayanan-pelayanan berbasis tehnologi.

Perubahan Gereja akibat wabah Covid 19 ini pun menggeser beberapa kebiasaan dalam Gereja diantaranya Persembahan Kasih, Perpuluhan, dan Persembahan Lainnya, tentu hal ini pun perlu pembahasan yang tepat agar dapat mengantisipasi terjadinya gangguan perekonomian dan keuangan Gereja.

Hal diatas mendapatkan sorotan langsung dari Pdt Immanuel Seldhi, MICE bahwa selama Pandemik Covid 19 ini banyak persembahan melorot ke angka yang sangat minim, kurang lebih penurunannya selama 2 bulan ini sekitar 50% – 80% untuk Gereja Lokal yang masuk ke Grade Kecil, dan sekitar 20%-50% penurunannya untuk Gereja Lokal Grade Besar.

Hal ini disebabkan Gereja Lokal Kecil kurang memahami penggunaan tehnologi pembayaran berbasis Digital Payment dari beberapa aplikasi seperti OVO, DANA, GOPAY dan sebagainya, sebagai konsekuensi seperti yang dilakukan adalah Gereja Lokal Kecil diberikan Celengan setiap Kepala Keluarga untuk meletakan persembahannya yang akan diambil sebulan sekali.

Dan menyarankan juga apabila terjadi hal demikian yaitu dengan Cross Funding yang dilakukan oleh Sinode dengan cara melakukan penggalangan dana pada jemaat Lokal yang Besar  dalam mensupport  pendanaan Gereja Lokal Kecil yang mengalami penurunan pemasukan hingga 80%.

Sebagai gereja yang yang berafiliasi dengan International Pantecostal Holliness Church, yang mana dalam ibadah sangat ditentukan oleh Pujian dan Penyembahan, dimana pada masa Covid 19 ini, hal yang berhubungan dengan music, worship leader yang seharusnya menjadi pendahuluan bagi masuknya ibadah, praktis tak dapat dilakukan, karena keterbatasan pelayan akibat Phisycal Distancing.

Dan hal ini ditanggapi langsung oleh Pdt Ediman Ginting, MM dimana beliau mengatakan saat ini lah sebenarnya Tuhan sedang merancang bahwa Pujian-Pujian kita bukan hanya berasal dari Musik-musik  yang ramai, dan hingar bingar, saat ini Tuhan benar-benar menginginkan Hidup dan Jiwa kita sebagai Pujian yang hidup bagi Tuhan.

Hamba Tuhan harus siap menjadi penyampai Firman Tuhan dan juga menajdi Worship Leader bagi jemaatnya, dan kita hanya dengan music tunggal seperti gitar saja, dapat melakukan pujian dengan seluruh jiwa kita bagi kemuliaan nama Tuhan.

Dan keberadaan Gereja setelah Covid 19 ini berlalu tentu menimbulkan berbagai macam prediksi dan perhitungan lain sehubungan akan diberlakukan pemerintah yang disebut dengan “New Normal” dimana Gereja harus menaatinya.

Pdt Aristarkus Tarigan, MA menanggapi bahwasanya Gereja mungkin tidak siap menghadapi lonjakan jemaat yang sudah lama tak bertemu dan ketika New Normal diberlakukan tetapi harus mengikuti protokoler kesehatan dari pemerintah, tentu akan menimbulkan permasalahan baru, siapa yang dapat masuk ke ruang Gereja siapa yang tidak dapat masuk, hal ini harus kita berlakukan di dalam Gereja, jaga jarak, menggunkan masker dalam ibadah, tidak bersalaman.

Di satu sisi Gereja dapat saja tidak siap dengan kondisi ini, tetapi di sisi yang lain Gereja harus menjadi perpanjangan tanganNya Tuhan untuk mengahdapi kenyataan ini, Tuhan Ijinkan hal ini terjadi dan Tuhan pasti kasih cara untuk kita dapat lakukan bagi ibadah kita di Gereja.

Pdt Dr Johanes Tarigan mengatakan bahwa New Normal akan kita hadapi dan jaminan kehidupan dan perekonomian Hamba Tuhan yang berdampak tentu ada solusinya. Keluarga itu gereja, setiap rumah itu jadi gereja, bukan gereja liar, susunan acaranya sama dengan susunan di Ibadah Raya, Gereja dari rumah yang menjadi pendetanya itu sang Kepala Keluarga, tentukan dalam keluarga siapa Worship Leadernya dan lakukan pemberian persembahan, lagu penyembahan diadakan sama dan kotbahnya sama sesuai Gereja dan bila semua ini dilakukan dengan kesadaran para jemaat tentu kesulitan keuangan Gereja dapat dihindari.

Mulai sekarang jadikanlah rumah menjadi Gereja dengan system multiplikasi, yang mana kini tidak ada lagi pusat perhatiannya di dalam diri Pendeta yang merasa superstar, akan tetapi Jemaat focus pada pelipatgandaan Gereja yang bermutasi menjadi rumah-rumah menjadi tempat ibadah.

Kita harus hidup dalam ibadah yang berdamai juga dengan Covid 19 agar ibadah kita tetap terjaga dalam menyembah Tuhan yang sama ketika di Gereja maupun ketika beribadah di rumah-rumah, berdamai dengan New Normal yang nantinya akan kita sama-sama lewati yaitu hidup harus tetap menggunkan perlengkapan diri seperti masker, muncuci tangan dan Jaga Jarak, mengkonsumsi makanan yang sehat bagi kesehatan jasmani dan rohani, serta olahraga teratur, agar kita bisa berdamai dengan Covid 19 yang sampai hari ini belum ada vaksin penangkalnya.

Jadi kita semua harus siap menjalankan hari-hari kita kedepan dengan berdampingan dan tetap waspada terhadap Covid 19 yang belum tahu kapan akan berakhir dimuka bumi ini